
Sejarah, visi & misi, serta identitas pelayanan yang membentuk perjalanan GPK sejak 1923.
Sudah lebih dari seabad lamanya sinode Gereja Penggerakan Kristus (Pinkster Beweging) hadir memberikan kontribusi bagi pelayanan Tubuh Kristus. Di dalam perkembangannya, dinamika pasang surut merupakan bagian yang juga hadir mewarnai perjalanan pelayanan gerejawi.
Realita ini mendorong agar perlunya melakukan perubahan yang lebih dinamis sesuai dengan konteks zaman dengan harapan mampu membawa kemajuan bagi pelayanan gereja dalam konteks lokal, maupun yang lebih luas di Indonesia.
Empat babak perjalanan pelayanan GPK dari awal mula hingga menjadi sinode yang menaungi ratusan jemaat lokal.
Adalah seorang Rev. Johannes Gerhard Thiessen, kelahiran Kitchkaz, Ukraina, 22 November 1869. Tamatan Seminary Theologia St. Chrischona di Swiss, dan Tamatan Sekolah Kedokteran di Roterdam, yang menikah dengan Anna Maria Vink, mengawali pelayanannya sebagai Utusan Injil di Pulau Sumatera pada Tahun 1901.
Rev. Johanes Thiessen yang selanjutnya biasa dipanggil Papa Thiessen bersama isterinya meninggalkan negeri Belanda, dan diutus oleh Doopgzinke Kerk sebagai penginjil ke daerah Sumatera Utara untuk bekerja melayani suku Batak. Beliau melakukan pelayanan yang holistik yaitu penginjilan, sekaligus membantu pelayanan kesehatan masyarakat di sekitarnya dengan mendirikan gereja dan juga rumah sakit. Selama melayani di Pekantan – Tapanuli Selatan sekitar 15 tahun lamanya, Tuhan mengaruniakan tiga orang putra dan tiga orang putri yang semuanya lahir di Sumatera. Bersama keluarganya, Papa Thiessen pun kembali ke Negeri Belanda karena telah selesai menunaikan tugas di Sumatera hingga tahun 1916.
Sementara itu Kebangunan Rohani yang dimulai di Amerika Serikat melanda benua Eropa. Di Swiss, melalui Kebangunan Rohani yang dialaminya, Papa Thiessen kemudian ke Jerman dan berkenalan dengan Pastor Jonathan Paul, perintis Pinkster Beweging di Jerman, dan juga Br. Roelof Polman pelopor Pinkster Beweging di Belanda. Setelah mengalami baptisan Roh Kudus, Tuhan memperbaharui visi dan misi Papa Thiessen.
Pada Tahun 1921 Papa Thiessen bersama keluarganya meninggalkan Belanda dan kembali ke Indonesia, kali ini ke Pulau Jawa dengan membawa visi baru dengan predikat Evangelist (penginjil). Beberapa tokoh pergerakan lainnya bergabung, antara lain Br. John Bernard dari Liverpool dan Weenink Van Loon, dari persekutuan “De Bond Voor Evangelistie”. Pada Maret 1921 datang pula dua penginjil “Bethel Tempel” dari Seattle, Amerika Serikat, yakni Pdt. C. E. Grosbeck dan Pdt. D. R. Van Klaveren.
Pada tanggal 29 Maret 1923, Rev. Johannes Thiessen bersama Wenink Van Loon tiba di Cepu dan mengadakan kebaktian. Keesokan harinya, Jumat Agung 30 Maret 1923, diadakan baptisan air — 13 jiwa dibaptis dan terjadi kepenuhan Roh Kudus. Atas dasar peristiwa inilah tanggal 29 Maret 1923 ditetapkan sebagai hari berdirinya Pinkster Beweging.
Pada mula pelayanannya di Bandung, Papa Thiessen menyewa gedung pengadilan negeri (Landraadzaal) sebagai tempat kebaktian. Setiap kebaktian selalu mendapat perhatian banyak pengunjung karena kuasa Tuhan dan banyak dinyatakan mujizat — orang bertobat, yang sakit disembuhkan.
Dalam waktu relatif singkat, ruangan pengadilan tersebut tidak dapat lagi menampung pengunjung, sehingga timbul hasrat untuk membangun gereja sendiri. Berdirilah gedung Pinkster Beweging pertama di Jl. Litson I (sekarang Jl. Marjuk No. 17) diberi nama BETHEL, menampung kurang lebih 300 orang.
Untuk memenuhi ketentuan pemerintah Hindia Belanda, permohonan pemberitaan injil di Jawa Barat diajukan 4 April 1923 dan dikabulkan melalui SK Gouverneur Generaal Hindia Belanda No. 28 tanggal 4 Juni 1924. Status badan hukum perkumpulan PINKSTER BEWEGING diperkuat lewat SK Raja (Koninklijk Besluit) No. 80 tanggal 29 Juni 1925, serta beberapa SK berikutnya di 1934.
Dalam kurun 30 tahun ini, hingga wafatnya Rev. Johannes Thiessen pada 1 Maret 1953 dalam usia 83 tahun, Gereja Penggerakan Kristus telah menyebar ke beberapa kota di Jawa maupun luar Jawa.
Di tahun 1948 Papa Thiessen menyatakan Pdt. Maroedin Sibarani sebagai penerusnya. Pada Februari 1952, Papa Thiessen menyetujui penggunaan nama formal berbahasa Indonesia untuk Pinkster Beweging, yaitu Gereja Penggerakan Kristus, dengan pengertian bahwa Kristuslah yang menggerakkan setiap pekerjaan pelayanan yang dilakukan jemaat sebagai Tubuh-Nya.
Sejak saat itu nama Gereja Penggerakan Kristus digunakan secara resmi, dengan tetap mencantumkan Pinkster Beweging sebagai cikal bakalnya. Sepeninggal Papa Thiessen, GPK mengalami berbagai dinamika internal namun tetap bertahan.
Pada masa Orde Baru, seluruh organisasi keagamaan wajib menyesuaikan diri dengan UU No. 8 Tahun 1985. Setelah memenuhi persyaratan, terbit SK Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI No. 127 Tahun 1987 tanggal 8 Desember 1987, dilanjutkan Akta Keterangan Pendirian No. 33 tanggal 22 Maret 1988.
Pada 28 Februari 1995 Pdt. Maroedin Sibarani wafat. Kepemimpinan pelayanan kemudian ditangani tim pengurus/majelis Ibu Hana Mukti & Bapak Iskandar Oeripkartawinata, SH, bekerja sama dengan bagian Tubuh Kristus lainnya.
Belasan tahun kemudian, dilakukan penataan menyeluruh bagi induk organisasi melalui Sidang Raya pertama Sinode GPK pada 22 Agustus 2008, diresmikan oleh Bapak John Nainggolan, M.Th (Pembimas Kristen Depag Jawa Barat), dengan Pdt. Ny. Maria Sumiati Setyadarma sebagai Ketua Umum dan Pdt. Ir. Guntur Barus sebagai Sekretaris Umum.
Sinode kemudian melakukan pendaftaran ulang melalui SK Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI No. 04 Tahun 2019 tanggal 3 Januari 2019. GPK kini menjadi “payung hukum” bagi jemaat lokal di Indonesia dan mancanegara — mencakup ratusan jemaat di puluhan provinsi, termasuk 1 jemaat lokal di Belanda.
Sepeninggal Pdt. Ny. Maria Sumiati Setyadarma pada 25 Juni 2021, Ketua Umum Sinode dilanjutkan oleh Pdt. Ir. Noldy RJ Kambey, MBA dan Sekretaris Umum oleh Pdt. Domartin Hasugian, S.Tex, dibantu Badan Pekerja Harian & Badan Pengawas Sinode GPK. Kini seluruh proses pendaftaran, verifikasi, dan penerbitan SK dijalankan lewat sistem digital GPK.
Visi Sinode Gereja Penggerakan Kristus sebagai bagian dari Tubuh Kristus adalah memuliakan Bapa di sorga melalui kehidupan jemaat yang dimuridkan seperti Yesus Kristus, agar menjadi garam dan terang dunia. Misinya, memfasilitasi dan menyediakan "payung hukum" bagi gereja-gereja lokal di seluruh Indonesia pada Kementerian Agama RI — tanpa menetapkan target jumlah gereja, terbuka bagi siapa saja yang menyetujui persyaratan penggabungan sesuai Tata Gereja dan Anggaran Rumah Tangga.
Kami berakar pada nilai-nilai Kristen dan memberikan wadah bagi pelayanan yang memajukan misi gereja.
Kami yakin bahwa melalui kebaikan, kita dapat mengubah dunia — setiap tindakan baik memiliki arti besar.
Kami senantiasa terbuka untuk mendengar dan belajar, terus tumbuh demi memberikan pelayanan yang lebih baik.
Alkitab adalah Firman Tuhan yang menjadi dasar iman Kristen dalam praktik kehidupan bergereja setiap hari.
Salib Kristus melambangkan ketaatan Yesus sampai mati di kayu salib untuk mengikuti kehendak Allah menyelamatkan umat manusia dari dosanya.
Titik kecil pada bagian atas salib melambangkan mahkota duri, sebuah penghinaan sekaligus pengakuan kepada Yesus sebagai Raja orang Yahudi.
Titik pada masing-masing sudut salib (kiri, kanan, dan bawah) melambangkan paku yang tertancap pada tangan dan kaki Yesus sebagai totalitas pengorbanan Kristus.
Lingkaran diartikan sebagai kesatuan Tubuh Kristus dalam lingkungan Sinode Gereja Penggerakan Kristus.
Kita dipanggil untuk melayani Di dalam satu Tuhan Kita bergerak dengan api Roh Kudus Dengan urapan dan Kuasa-Nya Segala perbedaan bukanlah penghalang Kita bawa api Injil-Nya Dalam kesetiaan penuh pengabdian Kita hidup melayani-Nya
Reff: Gereja Penggerakan Kristus (Pinkster Beweging) Menjadi Berkat sampai keseluruh bumi Membawa terang bagi kemuliaan-Nya Kita bersatu membangun Tubuh-Nya
Kita dipilih untuk melayani Di dalam satu Tuhan Kita bergerak dengan api Roh Kudus Dengan urapan dan kuasa-Nya
Hubungi Sekretariat Sinode atau daftarkan gereja Anda untuk bergabung.